Pertanyaan “Seberapa cinta kah kamu pada tanah air mu?” mungkin hal yang berulang ulang jadi saya tanyakan pada diri saya sendiri sekarang.
Setahun hidup di Taiwan untuk study, membuat saya sedikit banyak shock ketika saya pulang dan berencana menghabiskan masa summer break saya di kampung halaman, lepas dari kecintaan dan keinginan saya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, tapi..benar – benar saya harus bilang, hidup di negara saya sendiri sekarang membuat saya frustasi pada banyak hal.
Dimulai ketika saya menginjakkan kaki kembali ke tanah air, dan mengantri di loket imigrasi, saya cuma membatin “how come it takes so long for this fu*king checking, and why do they look not so kind to people” hal yang sangat berbeda ketika saya keluar dari Taiwan, dimana saya hanya memerlukan 1 menit 55 detik untuk bagasi, dan 2 menit 36 detik untuk proses di imigrasi dimulai sejak saya mengantri (saya sengaja menghitung waktu nya) jadi total saya hanya memerlukan kurang dari 5 menit untuk semua proses ‘birokrasi’ dan dengan bonus petugasnya yang ramah dan penuh senyum membuat semua terasa mudah. Jadi bisa dibayangkan betapa dongkol saya masuk ke negara saya sendiri (saking dongkol dan campuran excited bertemu keluarga saya lupa untuk menghitung waktu, tapi percayalah, lamaaa..)belum lagi ketika saya harus mengantri bagasi sekitar 1 jam dan menyadari seseorang mengambil bagasi saya dan saya harus spend some times untuk berdebat bahwa itu adalah bagasi saya dengan percakapan kurang lebih seperti ini
Saya (S): Bapak, maaf, bapak mengambil bagasi saya..ini punya saya (muka sudah masam kesaaal)
Bapak2 (B): Lho..ini punya saya, saya ada nomornya
S: Oke..kalau itu punya bapak, buka sekarang kunci kombinasinya, kalo bisa saya kasih itu barang..beres (muka judes)
B: waaah…(saya potong dengan maju dan membuka kunci kombinasi koper saya, dan voilaa terbuka..of course it’s mine!!)
S: see?? Ini punya saya..saya bawa, jangan suka ambil barang orang dong (dengan mengacungkan gembok di depan mukanya..i did mean it, i have no hospitality to jerk..sorry)
Saya dongkol, dan pikiran pertama saya adalah “sungguh berbeda dengan Taiwan” saya serius, hal ini sungguh berbeda, di Taiwan saya hampir bisa pastikan bahwa hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, saya selalu merasa nyaman dan aman bepergian tanpa harus was was adanya copet ataupun pencuri, bahkan sekali waktu ketika teman saya ketinggalan barang di taxi, supir taxi nya menelfon dan mengirimkan barang tersebut kembali.
Lepas dari insiden koper, kemudian saya memasuki area bea cukai ketika semua koper musti diperiksa MANUAL, dan saya dengan tampang masam, karena petugasnya juga masam2 dan ga ramah, menunggu giliran saya, sampai ketika giliran saya Bapak petugas nya bertanya apa saya pelajar, dan ‘melepaskan’ begitu saja ketika saya bilang pelajar (thank God, I could save my time there) tapi di waktu bersamaan saya miris juga ketika beberapa mbak mbak yang adalah para pekerja (TKW) harus menjalani proses lebih rumit dengan tas dibuka dan dikeluarkan barang -barang nya satu persatu. Saya emosi tapi sudah terlalu capek dan emosi jiwa raga untuk protes, jadi saya berlalu, egois menikmati ‘privilege’ saya sebagai pelajar.
Jadi total saya membutuhkan sekitar 1.5 jam untuk keluar dari bandara Juanda, di negara saya tercinta..now tell me, how you think, then! Less than 5 minutes compare to more than 90 minutes..bahhh..This country do give bad first impression to people!
Tapi rupa nya keterkejutan saya tidak cukup berhenti di bandara, tapi dalam perjalanan pulang di mobil, yang saya terpaksa sedikit dongkol menerima keadaan, tapi harus cukup bersyukur dijemput jauh jauh dari Blitar (which takes like 4 hours driving) karena 2 orang yang menyupir mobil merokok dan AC mobil harus dimatikan, dan saya musti menghirup asap rokok bonus polusi knalpot jalanan yang ampun ampun. Katakanlah saya manja dan sok, but come on..1 year I live with no pollution of people smoking, dan polusi jalanan yang jelas jauuuuuh tidak ada apa apa nya dibanding disini, so what do you expect? Saya kesal, saya prihatin melihat polusi jalanan dan etika orang berkendaraan disini! I can’t explain much, but simply I can say how the traffic in Taiwan is totally different and absolutely better than here.
That’s my first day experience! Tentu saya mengalami banyak hal menakjubkan selepas saya berada di rumah, menikmati berbagai makanan lezat yang tidak akan bisa saya temukan di Taiwan, menikmati betapa uang masih sangat berharga disini, harga harga yang jauuh lebih terjangkau, dan yang jelas cuaca yang sangat bersahabat berbeda dengan panas neraka nya Taipe saat ini.
Tentu saya masih mencintai Negara ini, tanah dan tumpah darah saya, tempat dimana orang orang yang saya cintai berada, tapi merasakan hidup di negara maju selama 1 tahun ini membuat saya banyak berhayal, seandainya negara ini mampu menjadi sebersih Taiwan, dan fasilitas umum yang sebagus disana, etika masyarakat yang sebagus disana, dan kecanggihan teknologi sebagus disana, Negara ini jelas akan menjadi surga bagi saya.
Dan wajar ketika kemudian timbul perkataan “Jangan cuma membayangkan..lakukan sesuatu untuk membangun bangsa ini” dan saya juga jadi putus asa memikirkan nya, kalau sekarang saya sudah uring uringan dengan akses internet yang super supeeeeeerrrr lambat (1/10 dari apa yang saya dapat di Taiwan), saya sering freak out kalau hidup sebulan di negara ini dengan koneksi seperti ini saya bisa jadi gila sendiri,dan saya sering frustasi dengan segala pelayanan publik, dan banyak hal disini..Jadi, kalau saya jadi gila bagaimana saya bisa hidup dan membangun negara ini?
Kenyataannya, cukup dengan setahun hidup di luar negeri membuat saya meragukan kapasitas saya untuk bisa hidup di negeri saya sendiri. Ironis, saya miris untuk mengakui nya, tapi inilah kenyataannya!
also published @ http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/07/28/frustasi-di-negara-yang-saya-cintai/
Like this:
Be the first to like this post.