Re-post dari blog ku yang lama, re- post juga dari loopingan imel ku yang tak jelas..
Tapi berapa kalipun kubaca aku tetap menyukai tulisanku ini (sah donkk?..saah kaaan menyukai tulisan sendiri..kekekeke)
Apalagi minggu depan mama ulang tahun, ngebaca tulisan ini lagi, trenyuh lagi, dan semakin bertekad, aku akan menjadi kebanggaanmu Ma, aku akan menghadirkan senyum di wajah cantikmu (asal jangan minta kawin cepet
belom laku..hehe)
more than words can say, I love you
Tulisan yang tercipta diantara malam, saat mata tak kunjung terpejam, tulisan untuk wanita paling hebat didunia: Endang Tyas Eko Budiarti, mama ku tersayang
Entah sejak kapan munculnya, aku punya penyakit gila -yang entah oleh si Ikal, Sang pemimpi legendaris Laskar Pelangi disebut- nomer kesekian, penyakit susah sekali memejamkan mata, saat ada ganjalan hati yang memindahkan balok pengganjalnya ke kedua bola mataku, menghitung domba, untaian Rosario, bercanda dengan Tuhan, meminta bocoran informasi tentang banyak hal yang selalu menjadi misteri bagiku, tidak jua mampu membuatku jatuh tertidur, bagian buku Maryamah Karpov tentang Mahmuddin pelupa yang dengan bodohnya mengumumkan berita salah, ketua Karmun mati tertimpa pohon jambu bol pun sudah kubaca berulang-ulang sampai ketawa aku cekikikan ditengah malam, hingga akhirnya aku menyerah dan mengikuti kemana arah pikiranku sebenarnya ingin berjalan, tentang keresahan – keresahan itu, dan Natal dan hari ibu, entah kenapa sedikit banyak menoreh makna didalamnya.
Bulan ini diantara suasana gempita dan suka cita menjelang Natal, Natal diusiaku yang lewat 24, Natal kesekian yang entah kenapa selalu ada nyeri disela-sela sukacitanya, aku melirik kalender, 22 Desember..ya hari ibu
Segala kejadian yang membuatku semakin takzim tetang ibu, status yang begitu ingin kusematkan dinamaku. Pelan diantara sunyi malam aku mulai bersenandung lagu KASIH IBU, dan menyadari benar butir butir air mata mengalir, teringat banyak kejadian tlah berlalu, dan kini aku begitu merindui mama. Beberapa bulan sudah tidak kutatap wajah mama, malaikat penjaga yang dikirim Tuhan untukku, hanya mendengarkan suara nya ditelfon tiap kami bertukar kabar sembari berdoa semoga kabar baek selalu.
Pernah suatu saat aku menerima email2 motivasi (berbagi kasih email dalam bahasaku) tentang mencoba memandang wajah ibu ketika bliau tertidur, dan dengan dorongan aneh, kupraktekkan itu ketika aku ada kesempatan pulang kekampung halaman, memanjang wajah teduh bliau ketika tertidur..menemukan jejak – jejak kecantikan bliau yang jelas akan diamini setiap orang yang mengenal bliau semasa muda, kecantikan yang pasti juga telah memikat papa ku sejak mereka duduk di kelas 2 SMP hingga saat ini saat mereka telah dikaruniai 4 anak dan 2 cucu yang mereka selalu banggakan melengkapi hidup mereka, keluarga yang selalu layaknya sahabat. kecantikan yang justru membuatku bangga dan tak keberatan saat banyak yang berkomentar mama ku jauh lebih cantik daripada aku..Dan disaat yan sama itu pula dalam hati kutemukan sebuah kesadaran “Wow..ini, wanita ini yang dulu sedemikian kuat dan perkasa dimata kami -papa, aku, saudara-saudaraku, dan keluarga besar kami-..sekarang sudah beranjak tua..dengan kerutan kerutan yang tiap garisnya penuh dengan pengalaman hidupnya”
Ketika aku sedang merenungi hari ibu ditengah suasana Natal ini, digelap malam saat mata dan hatiku tak mau berkompromi untuk diajak tidur, aku kembali teringat wajah mama saat itu, dan berbagai hal tentang bliau kembali berputar bak film dalam memoriku
Wanita ini dulu melahirkan aku dan saudara – saudaraku, kami berlima, dua kakak lelakiku, satu kakak perempuanku – yang dipanggil Tuhan kembali ke surga, diusianya saat baru bisa beranjak berjalan, saat itu aku sudah antri di rahim ibu dan akan lahir hanya dalam hitungan hari- dan adik lelaki ku, si bungsu yang kami sayang dengan segala keunikannya. Tentang melahirkan kelima anaknya, menurutku, mama pasti akan selalu teringat proses kelahiranku, saat bliau berada dalam duka mendalam kehilangan kakak perempuanku, -anak perempuan yang mereka nanti nantikan, anak yang dipanggil Tuhan karena semata bliau merasa tidak menjaga dengan baik - dalam suasana seperti itu, saat mama berduka mengalami goncangan serta pendarahan hebat ketika melahirkanku, pikiran ikut bersama kakak kesurga bersamaku membuat bliau bahkan enggan untuk mengejan, melahirkanku, hingga entah bagaimana prosesnya lahirlah aku yang sudah hampir menjadi biru, aku anak perempuannya, yang waktu itu, yang semoga mampu menghibur hati keluargaku yang sedang berduka, hingga akhirnya nama AGUSTINA AGUNG NUGRAHENI tersemat padaku, Anugrah besar yang Tuhan kirim dibulan Agustus
Wanita ini pula yang dengan tabahnya saat itu, bertahan diantara kesulitan dan badai yang menerpa kehidupan keluarga kami juga saat papa harus kehilangan banyak hal, wanita ini mengajariku berdoa, bersyukur menengadahkan tangan hanya pada Tuhan saat berbagai permasalahan yang saat itu belum kupahami mendera kami, wanita yang pernah memelukku begitu erat seolah mencari kekuatan dari pelukannya padaku saat masalah yang maha dasyat menimpa,dengan pelukannya bliau seolah meneguhkan alasan bertahan dan berjuang demi cintanya padaku, pada kami anak-anaknya, dan pada papa. Wanita ini pernah begitu terlukanya saat aku berteriak menjawab semua nasehatnya dengan otak pemberontakku yang tengah beranjak remaja, hingga saking terlukanya bliau mengurung diri berpura –pura tidur sepanjang sore dan tanpa bliau sadari saat itu aku juga tengah terluka parah dihati, luka nyeri dan penyesalan tiada tara.
Berbagai pengalaman tentang kasih bliau dan betapa banyak hal yang kulakukan yang melukai hatinya kembali terlintas, ada senyum tolol saat kuingat pernah aku sakit typus, hingga dirawat dirumah dengan kunjungan dokter rutin, dan aku terlalu lemah untuk bangun karena pasti muntah, bliau dengan sabar menungguiku tidur disampingku, terlebih saat kakak lelaki ku bercerita malam itu jam 2.30 ada pertandingan sepak bola klub Italia favoritku Intermilan bertanding, demi hafalnya bliau kan sifatku yang saat itu tengah tergila gila sepakbola bliau menjagaiku agar tidak nekat nonton, tapi usia dan stamina bliau tidak membuat bliau terbangun saat aku ditengah tidur nyenyaknya merangkak turun dan menyalakan televisi, dan muntah – muntah sepanjang sisa pertandingan hingga esoknya penyakit sialan itu bertambah parah (hahaha..aku dengan polah remaja bodohku)
Kami sekeluarga, begitu akrab satu sama lain, berbagi cerita segala hal membuat kami sering merasa sebagai sahabat, berbagai cerita persahabatanku dengan teman – temanku, cinta – cinta monyet yang lucu dan banyak hal lainnya.Saat teman2ku banyak mengeluh punya jarak dengan orang tua mereka, aku bersyukur itu tidak pernah menjadi masalah diantara kami, Hingga saat usia ku beranjak dewasa, berbagai hal, pengalaman yang waktu itu selalu kuyakini ini cinta membuatku sedikit demi sedikit menyembunyikan banyak hal pada bliau demi semata bukan karena aku ingin berbohong, justru demi cintaku pada keluargaku, aku tak ingin membuat bliau kecewa dengan segala ketidak normalan kisah cintaku waktu itu, selalu wajar bagiku saat bliau ingin terbaik bagi anaknya, ketika aku menyadari apa yang kupilih dan kutempuh saat itu bukan yang terbaik untuk kubagi, aku memilih diam, dan pelan – pelan bliau mulai kehilangan ‘jejak’ku, hal yang selalu sangat kuhormati dan kagumi tentang bliau, bliau akan menyenangkan diajak bercerita tapi ketika kami anak – anak nya memilih tidak bercerita bliau pun akan dengan bijak tak memaksa, tapi memastikan kami baik – baik saja
Hingga satu pengalaman membekas yang tak kan kulupakan seumur hidupku, saat hal yang begitu menyesakkan (paling tidak bagiku saat itu)menimpaku, tak secuplik kalimatpun terucap dari bibirku tentang yang aku alami saat itu, betapa saat itu aku tahu mata bliau terluka melihatku diam seribu bahasa, tertawa tanpa ruh, dan bertindak tanpa hati seolah menjadi bagai mayat hidup, betapa bliau terluka dan bertanya tanya tentang apa yang terjadi padaku hingga bliau sering menemuiku menangis mimpi buruk sepanjang malam dan menemukan mataku bengkak saat bangun tidur. Sementara aku bagai menjaga rahasia Negara tak bergeming untuk berbagi luka yang sesungguhnya tak mampu kutanggung sendiri, aku hanya bercerita tentang hasil akhir tanpa sedikitpun mengusik sebab nya, meyakinkan bliau aku akan baek – baek saja. Masih jelas teringat, mama yang bisa kuhitung dengan jari kapan menangis, memelukku menangis saat aku membisu tak bercerita, memelukku yang hanya bisa diam,kareana tak kuasa memahamiku dengan segala bisuku, bliau menangis, menangis untuk luka yang lebih dari jelas bagi bliau telah merenggut hidup ku, tapi tak mampu kubagi bersamanya, saat itu aku menangis hingga jatuh tertidur, dan merasakan betapa bliau berusaha menghapus air mataku, bukan hanya air mata yang menetes, tapi air mata dihatiku saat itu. Sementara aku semakin menangis bukan hanya untuk lukaku tapi lebih untuk luka yang kutoreh dihatinya, tangis bliau sangat menyakitkan tapi akan lebih menyakitkan lagi jika seandainnya aku bercerita, tak sanggup kutahan perihnya. Jadi dengan hati yang remuk redam kupasrahkan diri melihat tangis bliau yang menyayat hatiku, dan berteriak dalam hati, bertanya ‘mama seorang ibu, apa yang akan mama lakukan jika mama diposisiku?!’. Tapi lagi aku memilih untuk diam seribu bahasa. Demi cintaku pada mama, papa, pada keluargaku, dan padanya.
Aku bahkan akan tetap mengingat ini setiap saat, saat bliau dan papa ku menerima sepucuk surat yang aku yakin jika orang tua lain menerimanya pasti akan jatuh pingsan bahkan mengusirku demi semata percaya isi surat bodoh itu, tapi apa yang kuterima sungguh dasyat luar biasa tentang kasih dan dukungan tak terhingga orang tua, aku menangis sepanjang pesawat Surabaya-Jakarta karena tepat sebelum masuk badan pesawat sms kuterima tentang kabar surat itu datang ke mereka, tapi mereka memilih tak peduli tentang surat itu, dan meyakinkan apapun yang terjadi siapapun aku, aku tetaplah anak perempuan satu – satunya yang mereka sayangi lebih dari segalanya, bahwa apapun hal yang terjadi entah benar atau tidak yang penting adalah aku mampu melanjutkan hidup kedepan, kembali menjadi anak mereka yang ceria, penuh tawa dan cinta – setidaknya sehangat itulah mereka berpikir tentangku, lilin pembawa cahaya, anugrah bagi mereka, sesuai doa yang kubawa dinamaku tak pernah kurang dari itu mereka menganggapku anugrah dan cinta-.
“yo nduk,apapun adanya, kowe tetep satu2nya anakku wedok tersayang, wis sing ati2”
Sender: Papah Sayang, 19 September 2007, 12:15:25
Dan ajaib, cinta keluarga sungguh ajaib, sejak saat itu pelan – pelan aku kembali menata hidup dan tak sekelumit serita pun pernah mereka tanyakan lagi, Percaya dan mendukungku menjadi hal yang sangat luar biasa merubah hidupku. Mama yang sama pula yang kuingat menelfonku menghiburku, menguatkan hatiku saat aku di Bali menangis bersedih hati,untuk alasan yang tak bliau pahami, menangis karena seseorang yang pernah jadi bagian hidupku kehilangan ibunya, mama pula yang berbesar hati menelfon dia, mengucapkan duka cita meski dalam hati aku yakin bliau pasti bertanya – tanya tentang segala luka yang pernah terjadi diantara kami, toh bliau tetap menasehatiku, seburuk apapun terjadi dendam tidak seharusnya tinggal dihati,ahh..ahh..mamaku memang berhati besar dan luar biasa, darinya aku belajar mencintai orang – orang disekitarku, darinya aku belajar memaafkan dan ketulusan hati.
Wanita ini terus menunjukkan dukungannya yang luar biasa bagiku dalam keadaan sesesak apapun tetap memberi dukungan terbaik padaku, dengan kaki bliau yang tak lagi lurus dan jejak saat berjalan, bersama papa luar biasaku, Blitar – Bali menjadi jarak pendek untuk ditempuh demi menemaniku melalui banyak hal suram di akhir Mei 2008, saat sekali lagi semua hal buruk terjadi secara bersamaan, tapi kondisi mentalku untungnya sudah jauh lebih dewasa saat itu.
Kini saat usia bliau menginjak 53 tahun, saat anak – anak nya sibuk mengejar hidup dan mimpi – mimpinya masing – masing. Sering hatiku nyeri saat bliau mengirim sms “nduk, boleh mama telp?tadi kok tak telp ga diangkat” nyeri karena sms itu seolah bliau begitu khawatir aku terganggu hanya karena telp dan sms2 bliau, padahal sedetikpun tidak, padahal mungkin hanya saat aku tidak kiasa mengangkat telp, entah saat aku berada dijalan,hp ketinggalan, atau entah saat aku tak mendengarnya berbunyi
Bliau yang dulu mendengar setiap jerit tangis anak –anaknya, mendengarkan seksama setiap cerita yang kami bagi, kini kesepian dan ingin didengar, dan aku mendengar, bukan tentang hal berat, bukan tentang resesi dunia, bukan tentang dollar yang terus naik, bukan tentang materi promosi iklan, bukan tentang research perusahaan dan investor investor pertambangan, dan banyak hal yang biasa jadi obrolan teman kerja, bukan pula tentang pekerjan yang mulai berjalan mebosankan.
Aku mendengarkan tentang kakinya yang linu, besar sebelah, masuk angin yang jadi sering bliau alami, tentang masak ayam panggang tapi kurang asin, tentang kerewelan dan repot nya meladeni papa yang menurut bliau sudah tua (hahaha..padahal papa mama cuma selisih tidak kurang dari 6 bulan), tentang adek yang rewel minta motor satria baru (lagi), tentang adek dengan segala keunikannya (ganti kata bandel..hahha)yang membuat kami semakin menyayangi si bungsu itu), tentang ponakan2ku yang bandel, tentang kakak sulungku yang tak kunjung mau menikah, uff..jika topic ini disinggung, pelan aku juga pasti tertohok, saat mama bilang, mama pengen tambah cucu, mumpung masih sehat..uff..memerihkan hatiku, juga banyak tentang keluarga yang membuatku tak pernah merasa jauh secara hati, hal – hal yang selalu membuatku merasa ingin pulang kembali kepelukannya, karena entah pain killer apa yang bereaksi, yang jelas, segala nyeri, bayangan buruk masa lalu, beban apapun perlahan – lahan memudar saat aku dirumah, disisi mama, meski tanpa kuceritakan keresahanku, meski saat itu aku hanya berbaring diam disebelahnya, ngobrol hal hal remeh temeh, semua nyeri dan beban itu seakan menguap, karena mama adalah pain killer itu, mama adalah mujizat Tuhan untukku
Wanita ini dengan sedih ataupun bahagianya, kesalahan maupun kebaikannya, keberhasilan ataupun kejatuhannya adalah bukti nyata kasih Bapa surgawi untukku, yang memberikan bukti bahwa wanita layak untuk dicintai didengarkan, dan dibahagiakan
Banyak wanita luar biasa diluarsana, banyak wanita berbuat baik, tapi bagiku kau jelas melebihi mereka semua, dan aku ingin mama tahu betapa aku menyesal membuat mama menangis dan bersedih karenaku, dan selalu hadir dalam tekadku, tak kan lagi membuat mama bersedih, aku akan berusaha sekuatku membahagiakan dan membanggakan mama dan papa terbaik didunia ini.
Esok aku akan pulang kepelukan mama, meresapi segala hidup yang lahir karena cintanya, bersujud mohon ampun untuk segala nyeri dan kebodohan yang telah kulakukan meski disaat bliau tidak mengetahui, memohon ampun karena banyak saat hidup yang kulalui dalam sakit, karena selalu kuyakini dan kujadikan alasan untuk tertawa dan bahagia “aku tidak boleh sedih, karena saat aku sedih, Tuhan dan mama akan bersedih bersamaku” ikatan ibu dan anak yang kupahamin setelah banyak hal terjadi.iya ma, karena hidup akhirnya harus bahagia
Aku mencintaimu mama, hari ibu ini, mengingatkanku untuk kuat dan bahagia, hari yang mengingatkan setidakknya ada dua alasan kuat untukku berjuang bahagia, janji – janji itu..hehe..semoga ya Tuhan, masih panjang waktuku untuk membahagiakannya, memberi senyum diwajahnya, dan kebanggan dihati agungnya..aku sungguh mencintai mama
Selamat Hari Ibu mama, selamat hari ibu bagi setiap ibu didunia, pastilah begitu agung menyandang gelar ibu
Spend your time with your mom because you don’t understand how long she will be with you, and if she’s in heaven now, make sure that you make her smile above, smile and proud to have you. Thank God for sending us such a great mom, I love you mama.
Written on Dec 22, 2008
Like this:
Be the first to like this post.